Saya Tercipta,
Mami pasti terkejut menerima surat ini. Berita besar yang harus saya sampaikan kepada Mami ialah bahwa saya tercipta, saya ada, saya hadir disini, saya ada di dalam rahimmu dan saya milikmu.Saya begitu dekat dengan jantungmu, jantungku berdenyut karena bersatu dengan jantungmu.Saya baru saja berusia delapan minggu, saya tak lebih dari jari ibu tangan Mami, tetapi saya utuh, saya yang ada adalah diriku sendiri. Semua organ ada dalam diriku. Mataku dapat melihat, jantungku berdenyut, kepalaku lengkap dengan raut muka, mulut dan lidah, otakku sempurna, semua jari tangan dan kaki sudah terbentuk dan saya dapat meraba benda-benda.
Saya tercipta tetapi belum punya nama, saya tak tahu, nama apa yang akan diberikan kepada daku. Untuk sementara biarlah saya menamakan diriku “Si Kuncup”. Saya ada di sini, dalam gelap, dalam rahasia rahimmu. Tak seorangpun dibumi tahu kehadiranku. Mami, kaulah orang pertama yang menerima berita ini. Betapa indahnya bukan? Inilah saya, saya mencintaimu.
Mami tersayang,
Malam ini Mami tak dapat tidur. Saya mendengar keluhan-keluhan Mami. Saya rasakan air mata Mami. Saya juga tak dapat tidur meskipun di sini selalu malam, selalu gelap. Betapa saya rindu melihat terang, bermain-main dengan barang mainan, mempunyai kawan bermain, berbicara dan bercinta!
Betapa indah tentunya dapat bergerak dialam bebas, merenggangkan tangan dan kaki, berjalan-jalan dan memperhatikan hal yang indah-indah dan benda-benda yang diciptakan Allah untuk kita! bersahabat dengan manusia lain, mengenal dunianya dan mencintai mereka! terlebih-lebih betapa saya rindu melihat wajahmu, matamu dan senyummu, Mami!
Tetapi Mengapa Mami Menangis?
Saya mengerti! Mami kebetulan menangkap isi bisikan hati dan orang tua Mami. Mereka membicarakan sesuatu yang ngeri. Mereka merencanakan membunuh si Kuncup agar ia tidak lagi menulis surat kepada Mami. Mereka merencanakan melakukannya justru ketika si Kuncup masih sangat kecil, masih belum dikenal oleh dunia, masih tidak dapat dibela dan berteriak kepada seorangpun untuk mengatakan bahwa si Kuncup ingin hidup, si Kuncup punya hak untuk hidup, si Kuncup manusia biasa seperti Mami, seperti mereka, seperti semua orang lain yang merasa hidupnya penting dan perlu dipelihara.
Semula si Kuncup sangka bahwa nenek-nenek Kuncup akan senang dan menerima kedatangan si Kuncup dengan gembira, bahwa dunia yang akan si Kuncup masuki adalah dunia cinta, dunia persaudaraan, dunia keadilan, suatu dunia manusia. Tetapi kini Kuncup mulai sadar bahwa dunia ini bagaikan hutan rimba, tempat binatang-binatang buas. Kiranya sampaikan kepada orang tua Mami bahwa si Kuncup ingin melihat terang, ingin menjadi besar, kuat bijaksana dan baik.
Mami agaknya masih sangat bingung. Orang tua Mami baru saja menghantar Mami kembali dari dokter. Bersama-sama kalian telah menjatuhkan putusan tentang diri saya. Minggu ini saya harus pergi. Memang, Mami tidak bicara sepatah kata pun. Dengan wajah pucat karena malu, Mami menatap lantai. Mereka berdiskusi dan mengambil keputusan seolah-olah pendapat Mami tidak perlu didengarkan. Mami tidak berani membuka mulut untuk membela hak saya. Tinggal beberapa hari lagi saya akan dihukum mati. Saya hanya bisa menulis beberapa surat lagi, lalu suaraku akan membungkam selama-lamanya. Hanya Mami dan beberapa kawan dekat Mami yang akan tahu bahwa saya pernah ada. Saya tidak pernah meratapi nasibku: saya meratapi nasib Mami. Mami, dengarkan baik-baik apa yang kini mau saya sampaikan. Meskipun saya tidak akan menulis surat lagi, suaraku tidak akan lenyap. Suaraku akan terus bergema dalam diri Mami, suaraku akan menjadi suara batin Mami.
Mendapat gelar “Mami” indah dan sedap. Tetapi setiap kali mendengar panggilan itu hati Mami akan terluka. Mami akan merasa diri bukan sebagai seorang Mami sesungguhnya, melainkan sebagai seekor binatang buas, binatang aneh dari hutan yang kerjanya hanya merusak dan membinasakan.
Sedih dan kesal akan menyayat hati Mami: Mami tidak mampu melupakannya. Hidup Mami akan jadi sebagai neraka. Bukankah hidup tanpa ketentraman batin adalah neraka? Coba bayangkan berapa banyak waktu yang kelak Mami gunakan untuk berhadapan dengan diri Mami sendiri dan tenggelam dalam perasaan putus asa. Mami ingin mati saja tetapi Mami takut mati dan takut menghadap Hakim, menghadap kebenaran yang maha jelas.
Melalui Jalan Mana Si Kuncup Harus Pergi?
Mami tersayang,
Hari ini Mami kembali ke dokter atau pindah ke bidan kemudian ke dukun. Bermacam-macam cara yang dapat ditempuh untuk membunuh saya. Melalui jalan mana si Kuncup harus pergi? Saya pasti menderita, melalui cara apapun. Kini pilihan tergantung pada Mami.
Cara pertama perut Mami dipijat-pijat: di sini bagi Mami rasanya seperti diurut-urut, tapi bagi si Kuncup rasanya seperti digunjang gempa. Cara kedua Mami disuruh makan yang pedas: di sini bagi Mami rasanya seperti makan sambal saja, tapi bagi si Kuncup rasanya aduh seperti kena meriam.
Cara lain kolam tempat si Kuncup berenang disobek, sehingga akan hanyutlah aku tak berdaya ditelan banjir. Cara selanjutnya ialah “Metode Vacuum Suction” penyedotan kandungan. Dokter akan memasukkan suatu alat seperti pengisap debu ke dalam rahim Mami. Alat itu akan menyedot saya. Saya akan keluar berkeping-keping dan dibuang ke dalam panci. Itulah akhir yang tak patut dibanggakan dari si Kuncupmu.
Atau dokter dapat mengiris/mengorek saya di sini dalam kandungan Mami dengan gunting dan menarik saya keluar sepotong demi sepotong. Betapa saya diperlakukan lebih kejam dari penjahat-penjahat yang paling jahat. Penjahat dibunuh dengan cara yang paling sedikit menimbulkan rasa sakit. Hanya pemakan-pemakan manusia yang paling biadablah yang mengerat-erat daging musuh mereka.
Juga dokter dapat membuka perut Mami melalui operasi dan menarik saya keluar hidup-hidup. Ia akan membiarkan saya mati karena tidak diberi perlindungan.
Cara keempat ialah menyemprot larutan garam ke dalam cairan tempat saya berenang. Saya diracuni larutan garam, membengkak lalu mati. Kulitku terbakar karena garam. Setelah itu setiap saat Mami dapat mengeluarkan saya dari kandungan dalam keadaan mati lebam. Akibat yang sama diperoleh dengan penyuntikan <span>prostaglandin</span> atau dengan memotong tali pusat dan membiarkan saya mati karena pendarahan.
Bagi si Kuncup, semua cara itu sangat kejam. Tapi apa daya suaraku sangat lemah, saya tidak dapat berteriak, ataupun demonstrasi di jalanan protes ke pengadilan. Akhirnya tubuhku yang mungil akan dibuang sebagai sampah lalu dibakar. Saya tidak boleh meninggalkan jejak. Tak seorangpun boleh tahu tentang saya. Tak seorang manusiapun akan ingat dan mendoakan saya. Saya dianggap memalukan sehingga harus segera dibasmi dan dilupakan.
Namun, apa dosaku? Yang dianggap sebagai kesalahan saya satu-satunya hanyalah karena saya ada, karena saya tercipta akibat dosa orang lain, karena kehadiranku dianggap tidak menyenangkan beberapa orang. Tetapi saya ada dan akan tetap ada. Tak seorangpun dapat melenyapkan saya. Akan tiba saatnya kita akan berjumpa lagi: Saya, Mami, pembantu-pembantu Mami, orang tua Mami, dukun, bidan, dokter, dan seluruh masyarakat yang munafik ini. Kita akan bertemu di depan Allah dan segala sesuatunya akan dibeberkan. Setiap orang akan mendapat haknya, setiap kemunafikan akan ditindak.
Posted in: Sharing




0 komentar:
Posting Komentar